Sabtu, 02 November 2019

Family Gathering FKIP KM UHAMKA



 
 
Family Gathering FKIP KM UHAMKA

Pendekatan terhadap pengurus baru ruang lingkup Keluarga Mahasiswa, dimana peserta yang diwajibkan yaitu BPH Inti dan BPH Umum. Dalam famgeth ini mendatangkan 2 pemateri yaitu 
1. Sandris Maulana Saputra
2. Ardian Febriansyahputra

Sabtu, 31 Maret 2018

Kuliah vs Trias Politika


Ega Januardi. Nama ini disebutkan sebagai aktivis terbaik saat prosesi sakral wisuda UHAMKA Desember 2017 lalu. Sebagai mahasiswa apalagi merangkap sebagai organisatoris tentunya akan sangat bangga ketika namanya dilantunkan sebagai aktivis terbaik. Begitupun dengan kakak yang satu ini. Tempo hari, tim redaksi berhasil mewawancarai beliau nih sahabat JENIUS. Banyak sekali pengalaman yang bisa kita ambil dari kak Ega ini.
            Menurutnya, awal mula proses pengaderan di UHAMKA terlebih di FKIP ini berawal dari PEKA-MASTA atau yang sering kita kenal Masa Orientasi. Namun lebih mendalam lagi ketika mengikuti LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) dan menjadi pengurus HIMA (Himpunan Mahasiswa). Di HIMA, kak Ega ini menjabat sebagai ketua umum HIMA PGSD. Kak Ega berbagi cerita sedikit nih sobat, tentang suka duka menjalankan program kerja ketika ia menjadi pengurus HIMA. Waktu itu himpunannya berhasil bekerjasama dengan LEMLIT UHAMKA dalam melaksanakan lomba Karya Tulis yang berhadiahkan beasiswa. Tapi bukan hanya itu sobat JENIUS, ternyata kak Ega dan kawan-kawan juga pernah sampai akan menggadaikan motor demi program kerja yang akan dilaksanakan. Selain itu, kak Ega dan kawan-kawan juga pernah digiring oleh Dinas Sosial karena mengamen dan dianggap gelandangan. Wah, sampai begitu ya sobat.
            Setelah menyelesaikan tugasnya di tingkat program studi, kak Ega beralih ke tingkat Fakultas. Ia memilih untuk menjadi anggota dewan (wiiih), Dewan Perwakilan Mahasiswa maksudnya. Ia memilih untuk mengambil ranah legislatif. Saat itu, rekannya di HIMA memilih ranah eksekutif. “Kita kan tahu ya kalau eksekutif dan legislatif itu terlihat saling bergesekan, eksekutif dengan ambisinya, sedangkan legislatif dengan keidealannya. Tapi hal ini gak jadi hambatan saya untuk berteman. Kita harus tetap professional, bekerja professional. Kalau kita bekerja berdasarkan pertemanan, maka disitulah nepotisme terjadi. Atau segalanya diuangkan, maka korupsi akan terjadi.” Ujarnya. Patut dicontoh nih teman-teman. Singkat kata, singkat cerita. Setelah ia menyelesaikan tanggungjawabnya di tingkat Fakultas, lantas ia memilih untuk melanjutkan ke tingkat Universitas. Yap, kak Ega memilih yudikatif, ia menjadi Mahkamah Mahasiswa. Baginya, belajar tentang trias politika itu bukan hanya teori, tapi soal aksi.
            “Sulit sebenarnya membagi antara merah dan hijau. Sedangkan gak boleh lupa tugas sebagai mahasiswa.” Begitu menurutnya ketika ia bercerita bahwa ia aktif di ortom dan juga Keluarga Mahasiswa. Namun baginya, berorganisasi bukan halangan untuk berprestasi di bidang akademik. Kakak yang kini sedang sibuk mengajar dan melanjutkan S2 Magister Pendidikan di UHAMKA dengan beasiswa penuh ini menyampaikan bahwa organisasi itu sangat penting karena akan berguna dikemudian hari, apalagi didalam dunia kerja nanti. “Dipundak kanan kita ada organisasi, di pundak kiri mahasiswa sejati. Tidak boleh berat sebelah atau malah hilang. Menjadi mahasiswa itu tanggungjawab, organisasi itu adalah teman.” Tambahnya.
            Sobat JENIUS, kak Ega keren ya. Walaupun ia aktif berorganisasi, tapi akademik tidak dilupakan. Pantas saja kak Ega bisa mendapat gelar “Aktivis Terbaik”. Jadi, sekarang bukan lagi ‘Kuliah vs Trias Politika’ ya guys, tapi ‘Kuliah dan Trias Politika’. Semangat!! (KFa)

Sabtu, 10 Maret 2018

Arif Rahman Hakim



Kenalkah kamu pada nama Arif Rahman Hakim? Salah satu pahlawan Ampera, seorang mahasiswa yang gugur dalam aksi membela Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Arif Rahman Hakim, lahir tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan nama Ataur Rahman. Pada 1958, Arif Rahman Hakim berhasil menyelesaikan SMP dan pindah ke Jakarta tepatnya di bilangan daerah Tanah Tinggi untuk meneruskan pendidikannya di SMA. Setelah lulus SMA, pemuda  Arif Rahman Hakim berhasil diterima masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arif Rahman Hakim adalah pemuda yang senang dan aktif berorganisasi. Ia seorang yang mudah bergaul, baik hati, juga senang bekerja untuk kepentingan organisasi kepemudaan.
            Peristiwa yang terjadi setengah abad lalu sudah mulai terlupakan. Pada saat itu mahasiswa dan pelajar berjuang menumbangkan rezim pemerintah orde lama. Begitupun dengan pemuda bernama Arif Rahman Hakim. Puncak atas kesabaran mahasiswa, pelajar, dan rakyat Indonesia terjadi pada 10 Januari 1966 yang pada akhirnya memunculkan aksi untuk menuntut; bubarkan PKI, Retul kabinet DWIKORA, dan turunkan harga (isi Tritura). Tanggal 24 Februari 1966, Presiden Soekarno bermaksud untuk melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di Jakarta.  Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Penolakan ini berujung kepada aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiwa dari berbagai daerah. Jaket almamater berwarna-warni memenuhi lapangan Gambir atau Monas.
            Pagi itu, Arif Rahman Hakim bersama dengan ribuan demonstran mahasiswa dan pelajar telah berada di mulut Jalan Veteran 3 atau dulu disebut Jalan Segara dimana disana terletak markas Resimen Tjakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Demonstran berteriak-teriak menyerukan tuntutan dan sesekali disertai dengan kata-kata ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi sasaran. Pasukan Tjakrabirawa yang bertugas disebrang jalan tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan. Mereka mengancam untuk menembakkan senjatanya. Disanalah Arif Rahman Hakim tertembak oleh salah satu pasukan Tjakrabirawa. Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan mahasiswanya  berani beranjak dan melakukan evakuasi, tubuh Arif Rahman Hakim  mengerang terkulai dengan jaket kuning  bersimbah darah. Dalam perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.
            Tanggal 25 Januari 1966, jenazah Arif Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI Salemba menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dengan iringan ribuan mahasiswa, pelajar, dan penduduk kota metropolitan. Meninggalnya Arif Rahman Hakim membuat demonstran semakin panas, jaket kuning bersimbah darah milik Arif dijadikan bendera simbol perjuangan. Gugurnya Arif Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai pahlawan Ampera untuk menurunkan rezim Orde Lama, martir dan  simbol perjuangan bagi Angkatan Pemuda 66. Untuk mengenang perjuangannya, namanya diabadikan menjadi nama ruas jalan di beberapa kota di Indonesia. Di Universitas Indonesia, namanya diabadikan menjadi nama masjid di Kampus Salemba dan nama salah satu stasiun radio swasta di Jakarta. (KFa)

Selasa, 30 Mei 2017

BMAGZ 2

Akhirnya BMAGZ edisi 2 hadir lagi. Untuk teman-teman yang ingin tau apa isi dalam bmagz edisi 2 bisa di download yaa. Tema BMAGZ edisi 2 ini mengenai Pendidikan dalam rangka untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional dan juga Hari Buku Nasional. Check This Out yaa




Rabu, 08 Maret 2017

Visi dan MisiBadan Eksekutif Mahasiswa FKIP 2016-2017

Visi dan Misi
Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP 2016-2017


VISI :
Mengimplementasikan fkip km uhamka dalam ranah kerja nyata yg berlandaskan al islam dan kemuhammadiyahan

Misi :
1. Mensinergikan FKIP KM UHAMKA sehingga terbentuk kepengurusan yang solid dalam berbakti kepada FKIP UHAMKA
2. Mengkolaborasikan minat dan bakat mahasiswa FKIP UHAMKA bersama FKIP KM UHAMKA
3. Mengimplementasikan profesi guru dalam ranah sosial dan keilmuan


Program Kerja 
Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP 2016-2017

Bidang 1 Organisasi :
1. LKTD
2. LKTM
3. RAPEL


Bidang 2 Keilmuan
1. Diskusi
2. Studi Banding
3. Seminar Nasional

Bidang 3
1. Rubel
2. Baksos

Bidang 4 
1. Eksspresso
2. PPMB

Bidang 5
1. Mading
2. B-Magz
BMAGZ merupakan salah satu program kerja terbaru dari BEM FKIP 2016-2017 dan bertujuan sebagai wadah Mahasiswa FKIP untuk berkreasi menuangkan ide dan gagasannya berupa tulisan maupun gambar. Pada kesempatan kali ini, akhirnya BMAGZ dapat terealisasikan. Pada BMAGZ Edisi 1 ini, kami memilih topik "Pemimpin" sebagai tema dari majalah kami. Meskipun masih terdapat banyak kekurangan pada BMAGZ Edisi 1 tersebut. Semoga pada Edisi selanjutnya, kami bisa lebih baik lagi. Dan teman-teman Mahasiswa FKIP dapat berpartisipasi untuk menuangkan ide-idenya dalam Edisi selanjutnya. Selamat membaca




DOWNLOAD DISINI

Jumat, 24 Februari 2017

DISKUSI KEILMUAN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FKIP UHAMKA

DISKUSI KEILMUAN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FKIP UHAMKA

Waktu : Rabu, 28 Desember 2017
Tempat: Slasar, Gedung A, Kampus B UHAMKA
Pemateri : Mubarak Ahmad, M. Pd.
Moderator : Eka Fitriana Pratiwi

Konsep Pendidikan Menurut Paulo Freire
“Pendidikan yang Tertindas”

Pendidikan merupakan usaha untuk membebaskan manusia, sedangkan pendidikan menurut Paulo Freire merupakan usaha untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan, atau bisa disebut dengan usaha untuk "memanusiakan manusia" (humanisasi). Dengan menggunakan pendekatan humanis, ia membangun konsep pendidikannya mulai dari konsep manusia sebagai subyek aktif. Manusia adalah makhluk praksis, yakni makhluk yang dapat beraksi dan berefleksi dengan menggunakan pikirannya.
Pendidikan dengan pendekatan kemanusiaan sering diidentikan dengan pembebasan, yakni pembebasan dari hal-hal yang tidak manusiawi. Jadi, untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia dibutuhkan suatu pendidikan yang membebaskan dari unsur dehumanisasi. Dehumanisasi tersebut bukan hanya menandai seseorang yang kemanusiannya telah dirampas, melainkan (dalam cara yang berlainan) menandai pihak yang telah merampas kemanusiaan itu, dan merupakan pembengkokkan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh.
Konsep pendidikan Paulo Freire berpijak pada penghargaan terhadap manusia. Ia menempatkan pendidik dan peserta didik sebagai subyek dalam proses pendidikan, karena mereka memiliki kedudukan yang sejajar. Pendidikan adalah sebuah kegiatan belajar bersama antara pendidik dan peserta didik dengan perantara dunia, oleh objek-objek yang dapat dikenal. Pendidikan tidak lagi sekedar pengajaran, namun dialog antara para peserta didik dan pendidik yang juga belajar. Keduanya bertanggung jawab bersama atas proses pencapaian. Hal ini merupakan sebuah penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia. Pendidikan bukan lagi proses transfer ilmu pengetahuan, sebab keduanya sama-sama dalam suasana dialogis membuka cakrawala realita dunia.

“Tujuan utama manusia adalah humanisasi yang ditempuh melalui pembebasan. Proses untuk menjadi manusia secara penuh hanya mungkin apabila manusia berintegrasi dengan dunia. Dalam kedudukannya sebagai subjek, manusia senantiasa menghadapi berbagai ancaman dan tekanan, namun ia tetap mampu terus menapaki dan menciptakan sejarah berkat refleksi kritisnya.”
Hakekat pendidikan Paulo Freire diarahkan atas pandangannya terhadap manusia dan dunia, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, serta memiliki kesadaran dan berpotensi sebagai Man of Action untuk mengubah dunianya. Pendidikan adalah instrumen untuk membebaskan manusia supaya mampu mewujudkan potensinya. Oleh karena itu, pendidikan memainkan peranan strategis untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bermartabat dan berkualitas.

Sayangnya, gambaran dunia pendidikan secara umum masih jauh dari ideal. Sebagian besar sekolah (di Indonesia khususnya) hanya berfokus pada target kuantitatif yang bisa diukur, seperti misalnya harus lulus mata pelajaran dengan nilai tertentu, mendapatkan trophy, dan lain sebagainya. Padahal, model pendidikan seperti itu jelas menimbulkan efek yang buruk bagi peserta didik. Menurut Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas (1994), model pendidikan yang semacam itu ia sebut sebagaibanking education alias pendidikan gaya bank.

“Pendidikan karenanya menjadi sebuh kegiatan menabung, di mana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid.”

Dalam pendidikan gaya bank, peserta didik hanya dijejali dengan ilmu secara satu arah dengan tujuan mendapatkan nilai-nilai kuantitatif yang dituju. Praktek pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu. Pendidikan tidak dipahami sebagai transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang lebih menekankan pada proses pendewasaan pemikiran dan mengartikan belajar sebagai proses memaknai dan mengkritisi realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar. Bukan hanya mencari ijazah dengan nilai yang tinggi maupun sebagai sarana meningkatkan status sosial.

“Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugrah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa.”

Pendidikan gaya bank inilah yang telah menjadi alat untuk menindas kesadaran akan realitas yang sejati dan menyebabkan seseorang menjadi pasif dan menerima begitu saja keberadaannya. Pendidikan gaya bank tidak akan mendorong peserta didik untuk secara kritis mempertimbangkan realitas. Peserta didik hanya akan menjadi penerima yang pasif dari realitas yang diberikan, tanpa pernah bisa mempertanyakan kebenaran atau kebergunaan realitas yang diajarkan kepada dirinya. Yang disebut keberhasilan dalam metode ini adalah ketika peserta didik dapat menghapalkan dengan baik semua pengetahuan yang telah didepositokan ke dalam dirinya.