assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Kami selaku Lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa Periode 2019/2020 insyaallah akan Merevisi beberapa pasal dalam Garis Besar Haluan Organisasi, serta akan diplenokan. Berikut GBHO yang akan diplenokan:
https://drive.google.com/file/d/1CdCB1UVLhMmFVoJkdC12YdQRVGG2VGXA/view?usp=sharing
sekian dari kamu kurangnya mohon maaf
#VisionerMembangunPerubahan
$BEMFKIPUHAMKA 2019/2020
wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Senin, 30 Desember 2019
Jumat, 13 Desember 2019
Foto Famgath
Berikut kami lampirkan dokumentasi kegiatan Family Gathering FKIP KM UHAMKA 2019
LINK FOTO FAMGATH 2019
FORMASI FAMGATH
https://drive.google.com/drive/folders/1D3nDSP1yDva5vlJOU3OU3Uk1wtsB24zl
PESERTA FAMGATH
https://drive.google.com/drive/folders/1NuLJygdvm8qHXVEVFOWuSo7i_uHu-BLt
PEMATERI DAN MODERATOR
https://drive.google.com/drive/folders/1-FuzPlRL00_ab8qNdBakfRA13mP59XVn
VIDEO
https://drive.google.com/drive/folders/1LwUS-HW6HCH4t4UAaqcmtdqfg8dBw4x9
Berikut kami lampirkan dokumentasi kegiatan Family Gathering FKIP KM UHAMKA 2019
LINK FOTO FAMGATH 2019
FORMASI FAMGATH
https://drive.google.com/drive/folders/1D3nDSP1yDva5vlJOU3OU3Uk1wtsB24zl
PESERTA FAMGATH
https://drive.google.com/drive/folders/1NuLJygdvm8qHXVEVFOWuSo7i_uHu-BLt
PEMATERI DAN MODERATOR
https://drive.google.com/drive/folders/1-FuzPlRL00_ab8qNdBakfRA13mP59XVn
VIDEO
https://drive.google.com/drive/folders/1LwUS-HW6HCH4t4UAaqcmtdqfg8dBw4x9
Jumat, 06 Desember 2019
Latihan Kepeimpinan Tingkat Dasar
Sabtu, 02 November 2019
Family Gathering FKIP KM UHAMKA
Family Gathering FKIP KM UHAMKA
Pendekatan terhadap pengurus baru ruang lingkup Keluarga Mahasiswa, dimana peserta yang diwajibkan yaitu BPH Inti dan BPH Umum. Dalam famgeth ini mendatangkan 2 pemateri yaitu
1. Sandris Maulana Saputra
2. Ardian Febriansyahputra
Sabtu, 31 Maret 2018
Kuliah vs Trias Politika
Ega Januardi.
Nama ini disebutkan sebagai aktivis terbaik saat prosesi sakral wisuda UHAMKA
Desember 2017 lalu. Sebagai mahasiswa apalagi merangkap sebagai organisatoris
tentunya akan sangat bangga ketika namanya dilantunkan sebagai aktivis terbaik.
Begitupun dengan kakak yang satu ini. Tempo hari, tim redaksi berhasil
mewawancarai beliau nih sahabat JENIUS. Banyak sekali pengalaman yang
bisa kita ambil dari kak Ega ini.
Menurutnya, awal mula proses
pengaderan di UHAMKA terlebih di FKIP ini berawal dari PEKA-MASTA atau yang
sering kita kenal Masa Orientasi. Namun lebih mendalam lagi ketika mengikuti
LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) dan menjadi pengurus HIMA (Himpunan
Mahasiswa). Di HIMA, kak Ega ini menjabat sebagai ketua umum HIMA PGSD. Kak Ega
berbagi cerita sedikit nih sobat,
tentang suka duka menjalankan program kerja ketika ia menjadi pengurus HIMA. Waktu
itu himpunannya berhasil bekerjasama dengan LEMLIT UHAMKA dalam melaksanakan
lomba Karya Tulis yang berhadiahkan beasiswa. Tapi bukan hanya itu sobat JENIUS, ternyata kak Ega dan kawan-kawan
juga pernah sampai akan menggadaikan motor demi program kerja yang akan
dilaksanakan. Selain itu, kak Ega dan kawan-kawan juga pernah digiring oleh
Dinas Sosial karena mengamen dan dianggap gelandangan. Wah, sampai begitu ya
sobat.
Setelah menyelesaikan tugasnya di
tingkat program studi, kak Ega beralih ke tingkat Fakultas. Ia memilih untuk
menjadi anggota dewan (wiiih), Dewan Perwakilan Mahasiswa maksudnya. Ia memilih
untuk mengambil ranah legislatif. Saat itu, rekannya di HIMA memilih ranah
eksekutif. “Kita kan tahu ya kalau eksekutif dan legislatif itu terlihat saling
bergesekan, eksekutif dengan ambisinya, sedangkan legislatif dengan
keidealannya. Tapi hal ini gak jadi
hambatan saya untuk berteman. Kita harus tetap professional, bekerja
professional. Kalau kita bekerja berdasarkan pertemanan, maka disitulah
nepotisme terjadi. Atau segalanya diuangkan, maka korupsi akan terjadi.”
Ujarnya. Patut dicontoh nih teman-teman.
Singkat kata, singkat cerita. Setelah ia menyelesaikan tanggungjawabnya di
tingkat Fakultas, lantas ia memilih untuk melanjutkan ke tingkat Universitas.
Yap, kak Ega memilih yudikatif, ia menjadi Mahkamah Mahasiswa. Baginya, belajar
tentang trias politika itu bukan hanya teori, tapi soal aksi.
“Sulit sebenarnya membagi antara
merah dan hijau. Sedangkan gak boleh
lupa tugas sebagai mahasiswa.” Begitu menurutnya ketika ia bercerita bahwa ia
aktif di ortom dan juga Keluarga Mahasiswa. Namun baginya, berorganisasi bukan
halangan untuk berprestasi di bidang akademik. Kakak yang kini sedang sibuk
mengajar dan melanjutkan S2 Magister Pendidikan di UHAMKA dengan beasiswa penuh
ini menyampaikan bahwa organisasi itu sangat penting karena akan berguna
dikemudian hari, apalagi didalam dunia kerja nanti. “Dipundak kanan kita ada
organisasi, di pundak kiri mahasiswa sejati. Tidak boleh berat sebelah atau
malah hilang. Menjadi mahasiswa itu tanggungjawab, organisasi itu adalah
teman.” Tambahnya.
Sobat JENIUS, kak Ega keren ya. Walaupun ia aktif berorganisasi, tapi
akademik tidak dilupakan. Pantas saja kak Ega bisa mendapat gelar “Aktivis
Terbaik”. Jadi, sekarang bukan lagi ‘Kuliah vs Trias Politika’ ya guys, tapi ‘Kuliah dan Trias Politika’.
Semangat!! (KFa)
Sabtu, 10 Maret 2018
Arif Rahman Hakim
Kenalkah kamu pada nama Arif Rahman Hakim? Salah satu
pahlawan Ampera, seorang mahasiswa yang gugur dalam aksi membela Tritura (Tri
Tuntutan Rakyat). Arif Rahman Hakim, lahir tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan
nama Ataur Rahman. Pada 1958, Arif Rahman Hakim berhasil menyelesaikan SMP dan pindah ke Jakarta tepatnya
di bilangan daerah Tanah Tinggi untuk meneruskan pendidikannya di SMA. Setelah lulus SMA,
pemuda Arif Rahman Hakim berhasil diterima masuk Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Arif Rahman Hakim adalah pemuda
yang senang dan aktif berorganisasi. Ia seorang yang mudah bergaul, baik hati,
juga senang bekerja untuk kepentingan organisasi kepemudaan.
Peristiwa yang terjadi setengah abad
lalu sudah mulai terlupakan. Pada saat itu mahasiswa dan pelajar berjuang
menumbangkan rezim pemerintah orde lama. Begitupun dengan pemuda bernama Arif
Rahman Hakim. Puncak atas kesabaran mahasiswa, pelajar, dan rakyat Indonesia
terjadi pada 10 Januari 1966 yang pada akhirnya memunculkan aksi untuk
menuntut; bubarkan PKI, Retul kabinet DWIKORA, dan turunkan harga (isi
Tritura). Tanggal 24
Februari 1966, Presiden Soekarno bermaksud untuk melantik menteri kabinet baru yaitu
"Kabinet Seratus Menteri” yang personilnya sudah mencerminkankan ketidak
berdayaan Bung karno untuk mengendalikan situasi. Salah satu anggota menteri
adalah seorang militer yang dikenal sebagai tokoh pemimpin copet di
Jakarta. Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong
yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak kehadirannya oleh para mahasiswa,
pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain. Penolakan
ini berujung kepada aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiwa dari
berbagai daerah. Jaket almamater berwarna-warni memenuhi lapangan Gambir atau
Monas.
Pagi itu, Arif Rahman Hakim bersama
dengan ribuan demonstran mahasiswa dan pelajar telah berada di mulut Jalan
Veteran 3 atau dulu disebut Jalan Segara dimana disana terletak markas Resimen
Tjakrabirawa yaitu pasukan pengawal khusus Presiden. Demonstran
berteriak-teriak menyerukan tuntutan dan sesekali disertai dengan kata-kata
ejekan yang mungkin terasa menyakitkan bagi sasaran. Pasukan Tjakrabirawa yang
bertugas disebrang jalan tidak tahan berdiam mendapatkan ejekan. Mereka
mengancam untuk menembakkan senjatanya. Disanalah Arif Rahman Hakim tertembak
oleh salah satu pasukan Tjakrabirawa. Setelah rentetan tembakan berhenti barulah rekan-rekan
mahasiswanya berani beranjak dan melakukan evakuasi, tubuh Arif Rahman Hakim mengerang
terkulai dengan jaket
kuning bersimbah darah. Dalam
perjalanan ke rumah sakit anak muda ini gugur dan syahid sebagai seorang martir
dalam perjuangan rakyat menurunkan tirani penguasa di Indonesia.
Tanggal 25 Januari 1966, jenazah
Arif Rahman Hakim dilepas oleh Rektor UI dari Aula UI Salemba menuju tempat
peristirahatannya yang terakhir dengan iringan ribuan mahasiswa, pelajar, dan
penduduk kota metropolitan. Meninggalnya Arif Rahman Hakim membuat demonstran
semakin panas, jaket kuning bersimbah darah milik Arif dijadikan bendera simbol
perjuangan. Gugurnya Arif Rahman Hakim telah menjadikan dirinya sebagai
pahlawan Ampera untuk menurunkan rezim Orde Lama, martir dan simbol perjuangan
bagi Angkatan Pemuda 66. Untuk mengenang perjuangannya, namanya
diabadikan menjadi nama ruas jalan di beberapa kota di Indonesia. Di
Universitas Indonesia, namanya diabadikan menjadi nama masjid di Kampus Salemba
dan nama salah satu stasiun radio swasta di Jakarta. (KFa)
Selasa, 30 Mei 2017
BMAGZ 2
Akhirnya BMAGZ edisi 2 hadir lagi. Untuk teman-teman yang ingin tau apa isi dalam bmagz edisi 2 bisa di download yaa. Tema BMAGZ edisi 2 ini mengenai Pendidikan dalam rangka untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional dan juga Hari Buku Nasional. Check This Out yaa
Langganan:
Postingan (Atom)
